Share :

Dirjen Dukcapil Tularkan Semangat Transformasi di Pasar Modal

2020-03-24 13:43:02

Jakarta - “Life is never flat.” Tagline mirip iklan keripik kentang itu menggambarkan betapa hebat pengaruh perubahan terhadap hidup masyarakat. Itulah mengapa Dirjen Dukcapil Prof. Zudan Arif Fakrulloh tak hentinya mengobarkan semangat perubahan atau bertransformasi kepada semua pihak, termasuk pelaku industri pasar modal.  

Tak cuma berhenti di mulut, semangat perubahan ini sudah dilakukan lebih dulu oleh jajaran Dukcapil.

Sejak Februari 2019, kata Zudan, Dukcapil bertransformasi menuju tanda tangan digital (TTD) atau Digital signature. Mulai Maret 2019, dokumen kependudukan seperti akta kelahiran, akta kematian, akta perkawinan, surat pindah, kartu keluarga sudah tidak lagi menggunakan tanda tangan basah, dan tak ada lagi cap.

"Yang dulu manual tanda tangan basah dan cap, sekarang kami di Dukcapil bergeser menerapkan tanda tangan elektronik dan QR code untuk penerbitan dokumen kependudukan," kata Prof. Zudan dalam acara penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) pemanfaatan NIK, Data Kependudukan, dan KTP-el antara Ditjen Dukcapil dengan pelaku industri pasar modal Indonesia yang dikoordinasi oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) di Jakarta, Rabu (18/12/2019). 

Dengan digital signature, pejabat Dukcapil bisa memaraf dan menandatangani dokumen di mana pun tak harus dari kantor. "Maka kantor Ditjen Dukcapil itu menjadi demikian luas, tidak terbatas tempat dan waktu bisa dilakukan kapan pun. Saya habis subuh bisa tanda tangan digital 50 dokumen tanpa capek. Ditugaskan ke Estonia bisa teken dari Estonia. Ke Jeju bisa teken dari Jeju Korsel," papar Zudan.

Kalau kita sudah bertransformasi dari dokumen ke data, maka kami berharap suatu ketika nasabah tidak perlu datang untuk menjadi investor atau pemegang saham di pasar modal

Zudan mengajak semangat bertransformasi ini terus menerus agar tata kelola good corporate governance (GCG) semakin baik. 

"Kalau kita sudah bertransformasi dari dokumen ke data, suatu ketika calon investor tidak perlu datang untuk menjadi investor atau pemegang saham di pasar modal. Kalau kita bisa bertransformasi dengan face recognition, dengan nomor induk kependudukan (NIK), tanda tangan digital, maka pertemuan antara investor dengan penjual saham bisa sangat minimal. Buktinya, Dukcapil sudah menerapkan proses tata kelola yang tidak perlu lagi bertanda tangan basah dan tidak lagi mengenal cap perusahaan/instansi," tutur Zudan.

Tak berhenti di situ, Dukcapil memperbaiki layanan terus menerus, dan perlu dukungan semua pihak. 

"Kenapa harus memperbaiki layanan? Sebab saat ini masih ada 2,3 juta penduduk yang belum mau merekam data KTP-el. Yang sudah merekam itu 98,8 persen kurang 1,2 persen lagi. Jumlahnya itu tadi 2,3 juta. Jadi saya minta tolong semua investor agar diwajibkan menggunakan KTP-el untuk bertransaksi di pasar modal. Bagi yang belum berKTP-el agar diarahkan ke Dinas Dukcapil terdekat untuk segera merekam datanya dan membuat KTP-el. Yang belum ber-KTP elektronik berpotensi datanya ganda," demikian Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh. Dukcapil***